Selasa, 19 Januari 2010

Sebuah Surat Dari Bapa


Anak-Ku..... ..
Saat kau bangun dipagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku atau bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal indah yang terjadi di dalam hidupmu kemarin, tetapi aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Aku kembali menanti..... ..
Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-Ku, tetapi engkau terlalu sibuk. Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.

Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepada-Ku, tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru. Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepada-Ku. Sebelum makan siang Aku melihatmu
memandang kesekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Ku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepada-Ku dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau
tidak melakukannya.

Tidak apa-apa..... ....
Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, meskipun saaat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-Ku. Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian. Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu. Aku telah bersabar lebih lama dari yang
kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau syukur dari hatimu. Baiklah... engkau bangun kembali dan kembali. Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi-Ku sedikit waktu. Semoga harimu menyenangkan.

Bapamu di Sorga,

Senin, 18 Januari 2010


Kepala, Bukan Ekor...

Ayat bacaan: Ulangan 28:13-14
========================
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."

kepala, bukan ekorBerhasil dalam pekerjaan, karir meningkat, itu impian semua orang. Tidak ada orang yang mau mengalami stagnasi dalam karirnya. Tentu bahagia rasanya jika pekerjaan kita berhasil dan kita terus mendapat promosi untuk naik lebih tinggi lagi. Dalam berusaha apapun kita selalu ingin berhasil. Dalam kehidupan pun demikian. Kita ingin berhasil membangun keluarga yang berbahagia, kita ingin jadi anak yang berhasil di mata orang tua, kita ingin berhasil mendidik anak-anak dan sebagainya. Tidak ada orang yang memimpikan kegagalan. Namun ada banyak orang yang masih bergumul dengan itu. Usaha terus gagal. Bangkrut lagi, dililit hutang lagi, keluarga berantakan dan sebagainya. Bukannya mendapatkan promosi, tapi malah degradasi ke tingkat yang lebih rendah. Sebagai proses? Bolehlah. Tapi itu seharusnya tidak berlaku selamanya. Apa yang diinginkan Tuhan adalah menempatkan setiap kita menjadi kepala, bukan ekor. Tetap naik dan bukan turun. Jika masih naik turun atau tetap berada di bawah posisi seperti yang dikehendaki Tuhan, itu bisa jadi pertanda bahwa masih ada yang harus kita benahi dari diri kita. Dari perjalanan hidup Yusuf kita bisa melihat fakta menarik mengenai posisi kepala ini.

Sebelum kita melihat hidup Yusuf, mari kita lihat dulu ayat yang menyatakan keinginan Tuhan untuk posisi kita semua. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun.." (Ulangan 28:13). Sampai disini dulu, kita sudah melihat bahwa itulah yang dikehendaki Tuhan untuk terjadi kepada kita. Dalam proses mungkin kita dibentuk melalui fase-fase yang tidak nyaman, bahkan mungkin menyakitkan. Tapi dalam proses itupun sebenarnya kita bisa merasakan perbedaan nyata, jika kita ada Tuhan menyertai kita. Penyertaan Tuhan sudah dinyatakan akan terus bersama kita sampai selama-lamanya (Matius 28:20). Artinya Tuhan berada bersama kita bukan hanya ketika kita dalam keadaan aman tanpa masalah saja , tapi dalam kekelaman yang terkelam sekalipun Tuhan tetap ada. Daud merasakan hal itu. Ia mengatakan demikian: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Jalan hidup Yusuf menjadi sebuah bukti nyata bagaimana penyertaan Tuhan itu berlaku dalam setiap keadaan, dan itu membuat keberadaan dalam situasi sulit sekalipun tetap memiliki perbedaan jika kita menghadapinya bersama Tuhan. Sekarang mari kita lihat kisah Yusuf.

Sejak kecil Yusuf berbeda. Ia dikatakan lebih dikasihi dari anak-anak yang lain. (Kejadian 37:3). Melihat hal ini, cemburulah saudara-saudaranya, dan Yusuf pun mulai mengalami rangkaian penderitaan dalam hidupnya. Apalagi ketika ia menyampaikan mimpinya kepada mereka. Ia pun hampir dibunuh. Selamat dari pembunuhan bukan berarti selamat sepenuhnya, karena ia dilemparkan ke dalam sumur yang gelap gulita. Yusuf bisa saja mati secara perlahan di sana. Dia selamat dari sumur, tapi itupun bukan sebuah kebebasan, karena ia justru dijual kepada para saudagar Midian dan dibawa ke Mesir dalam status sebagai budak. Budak, ini bukan posisi kepala, tapi posisi ekor. Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata Yusuf dibeli oleh Potifar, seorang kepala pengawal istana.

Dalam posisi budak, apa yang bisa menjadi prestasi? Itu pikiran orang biasa. Tapi Yusuf berbeda. Dikatakan disana Yusuf selalu berprestasi dan ia pun mendapat promosi untuk dapat tinggal di rumah mewah tuannya Potifar. Bagaimana bisa demikian? Alkitab mencatat demikian: "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu." (39:2). Kelihatannya Daud tidak memiliki mental yang bersungut-sungut. Ia menjalani "profesi"nya sebagai budak dengan baik, apapun yang ia buat berhasil, sehingga dalam posisi ekor sekalipun ia bisa menjadi kepala. Mengapa bisa demikian? Sebab Tuhan menyertai Yusuf. Ini bagian pertama.

Perjalanan Yusuf menjadi lebih ringan? Tidak juga. Masalah berikutnya datang. Ia digoda oleh istri Potifar, tapi Yusuf dengan tegas menolak. Dia tidak tergoda oleh kenikmatan sesaat karena ia mau hidup taat. Kedagingannya mungkin mau, tapi rohnya ternyata kuat. Yusuf pun berkata "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ay 9). Terus menerus ditolak, lama-lama beranglah istri Potifar. Ia pun memfitnah Yusuf, sehingga Yusuf dilemparkan ke penjara. Posisi makin anjlok, kini Yusuf berstatus bukan lagi budak, tapi terpidana. Apa yang terjadi? Ternyata mental Yusuf tetap sama. Ia tidak mengeluh atau menghujat siapapun termasuk Tuhan, tapi kelihatannya ia tetap menunjukkan sikap luar biasa, sikap yang tentu berkenan di hadapan Tuhan. Kembali kita menjumpai ayat yang mirip dengan ayat 39:2 di atas, hanya saja kali ini terjadi di dalam penjara. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (ay 21-23). Kesulitan boleh bertambah, tapi kenyataannya Daud tetap menjalaninya dengan sebaik yang ia sanggup. Kembali kita lihat bahwa dalam keadaan di bawah (ekor), yang lebih bawah dari budak, ternyata Yusuf tetap bisa menjadi kepala. Mengapa? "Karena Tuhan menyertai dia, dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil."

Kisah ini tidak lagi asing bagi kita. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Singkat cerita, lewat hubungannya dengan seorang juru minuman yang pernah sama-sama dipenjara, dimana orang tersebut pernah melupakannya dan membiarkan Yusuf tetap dipenjara selama dua tahun, ia pun kemudian sukses mengartikan mimpi Firaun dan mendapat lompatan promosi yang menakjubkan, yang rasanya tidak akan pernah bisa terulang kembali. Dari tawanan tiba-tiba menjadi orang yang berkuasa atas seluruh tanah mesir. (ay 40-41). Yusuf akhirnya mencapai posisi kepala yang sesungguhnya. Ketika saudara-saudaranya menghadap, Yusuf seharusnya bisa membalas dendam. Tapi itu semua tidak ia lakukan karena ia lebih peduli untuk memuliakan Tuhan lewat kehidupannya. Itu jauh lebih penting daripada memuaskan nafsu untuk membalaskan sakit hati. Ia pun memaafkan saudara-saudaranya. Perkataan Yusuf kembali menunjukkan mental juara dalam hal ketaatan dan iman. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Dan itu hanya mungkin jika Yusuf mampu memandang dari kacamata Allah.

Dari sumur gelap, penjara, dan akhirnya istana. Itu benar-benar rangkaian perjalanan yang begitu penuh liku-liku, namun ternyata dalam proses itu ada penyertaan Tuhan yang membuat segala yang ia lakukan berhasil. Dalam posisi sulit dan di ujung ekor sekalipun Yusuf tetap mampu tampil sebagai kepala. Ini adalah hal luar biasa yang menjadi bukti nyata dari firman Tuhan yang mengehendaki kita semua untuk berada di "habitat" kita sesungguhnya yaitu kepala. Bahkan masalah sebesar apapun tidak mampu menghentikan Yusuf untuk mencapai posisi kepala!

Apa yang menjadi syarat agar Tuhan selalu menyertai dan memampukan kita mencapai posisi kepala? Syarat itu telah diberikan dengan jelas. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28: 13-14). Dari ayat ini kita bisa mengalami seperti apa yang terjadi pada Yusuf jika: (1) kita mendengarkan perintah Tuhan (2) menjadi pelaku-pelaku firman yang setia (3) tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan (4) hanya menyembah Allah (huruf besar) saja, dan bukan allah lain (huruf kecil). Bukankah rangkaian kisah Yusuf menggambarkan ke 4 hal ini menjadi pedoman hidupnya secara penuh? Bukankah Yusuf tetap taat melakukan ke 4 hal tersebut tanpa peduli kondisi apapun yang ia hadapi? Ia tidak kecewa, tidak mencoba alternatif lain untuk selamat, ia tidak kepahitan, ia tidak bersungut-sungut, ia tidak menghujat, ia tidak putus asa, ia tidak hilang harapan, melainkan tetap percaya sepenuhnya untuk berjalan bersama Allah! Dan janji Tuhan pun dengan sendirinya berlaku bagi diri Yusuf.

Tuhan telah menetapkan anak-anakNya untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Kita akan senantiasa naik dan bukan turun. Janji yang sudah terbukti pada Yusuf pun berlaku sama buat kita semua hari ini, juga anak-cucu kita di masa yang akan datang. Ini sebuah janji berkat Tuhan yang akan bisa kita dapatkan jika kita melakukan apa yang telah Tuhan tetapkan sebagai syarat. Dalam kondisi apapun saat ini anda berada, tetaplah berpegang teguh pada firman Tuhan, percayalah tanpa ragu sedikitpun, jangan memberi toleransi pada jebakan dosa dan jangan tergoda untuk mengambil alternatif-alternatif lain karena tidak sabar mengalami proses. Sebuah perjalanan yang terkelam sekalipun, jika ada penyertaan Tuhan di dalamnya akan tetap memberikan sebuah hasil yang berbeda. Kita akan tetap berhasil meski ditekan, kita akan tetap maju meski ditahan, tidak ada satupun yang bisa menghentikan keinginan Tuhan jika kita melakukan semua syarat-syarat yang telah Dia tetapkan. Proses boleh menyakitkan, namun pada suatu ketika kita akan menuai janji Tuhan dengan sepenuhnya. Dan ingatlah bahwa dalam sepanjang proses itupun Tuhan mampu membuat kita tetap berhasil dan memperoleh pencapaian-pencapaian tersendiri. Yusuf sudah membuktikan dan berhasil. Siapkah kita membuktikannya sama seperti Yusuf?

Kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, itulah yang dijanjikan Tuhan untuk kita

Pelaku Firman

Ayat bacaan: Yakobus 1:23-24
=========================
"Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya."

pelaku firmanSalah satu yang saya sukai dari profesi saya sebagai pengajar adalah saya bisa terus selalu mempraktekkan ilmu yang telah saya pelajari dahulu secara rutin. Setiap kali mengajar, saya akan terus mempergunakan ilmu itu sehingga saya tidak akan lupa. Ada beberapa murid yang telah lulus tapi lama tidak mempergunakan ilmunya, dan ketika saya bertemu dengan mereka, mereka berkata bahwa banyak yang telah mereka lupa dari apa yang pernah mereka pelajari. Apapun yang kita pelajari jika tidak kita aplikasikan secara langsung secara terus menerus maka kita pun akan lupa. Tidak heran ada pepatah yang mengatakan "practice makes perfect". Ilmu yang hanya kita dengar atau hafalkan tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak dipraktekkan atau dilakukan secara nyata.

Dalam kehidupan rohani pun demikian. Mungkin kita rajin mendengar kotbah dalam kebaktian, mungkin ada sebagian yang bahkan membawa catatan, tapi semua itu akan menguap jika tidak kita aplikasikan secara langsung dalam kehidupan kita. Hari ini mungkin masih ingat, besok mungkin ingat setengah, minggu depan tidak ada lagi yang diingat. Rajin mendengar kotbah itu amat baik. Mencatatnya, lebih baik lagi. Rajin membaca firman Tuhan itu baik, jika ditambah dengan merenungkannya tentu akan lebih baik lagi. Tapi tanpa dilakukan, semuanya tidak akan menghasilkan apa-apa. Yakobus menjelaskan mengenai hal ini. Pertama-tama ia mengingatkan kita agar membersihkan segala kotoran di dalam hati kita dan kemudian menerima firman, memasukkan firman ke dalamnya dengan lembut. "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." (Yakobus 1:21). Itu pesan pertama. Tapi kemudian Yakobus mengingatkan agar kita jangan berpuas diri hanya sampai disitu saja. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (ay 22). Ini pesan serius sampai-sampai ia menggolongkan orang yang hanya mendengar itu sama dengan orang yang menipu diri sendiri. "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (ay 23-24). Maksud Yakobus begini: orang yang hanya mendengar tanpa melakukan itu seperti orang yang hanya melihat dirinya secara maya/semu. Seperti kita berkaca, kita hanya melakukannya sebentar saja, dan kemudian kita pun meninggalkan cermin dan tidak lagi mengingat-ingat apa yang barusan kita lihat. Tadi sebelum berangkat kita sudah rapi, tapi mungkin di jalan kita mulai berkeringat, rambut mulai acak-acakan, sehingga jika kita tidak kembali berkaca kita tidak akan tahu bagaimana rupa kita sekarang. Kita mungkin akan merasa bahwa kita masih terlihat rapi, padahal kenyataannya jauh dari itu. Inilah gambaran yang diberikan oleh Yakobus. Orang yang berhenti hanya sampai mendengar firman tanpa melakukan ibarat orang yang hanya berkaca dalam waktu yang singkat kemudian sesaat kemudian tidak lagi menyadari atau peduli siapa mereka sebenarnya.

Peringatan penting disampaikan kepada kita semua hari ini. Memulai untuk mendengar atau membaca firman Tuhan dengan sungguh-sungguh itu adalah amat baik. Lewat kotbah di gereja, lewat membaca renungan, lewat mendengar di radio atau kaset/cd, semua itu adalah baik. Tetapi janganlah berpuas diri hanya sampai di situ saja. Kita harus pula mengaplikasikannya secara nyata dalam kehidupan kita. Firman-firman yang tertanam dalam diri kita haruslah bisa terpancar dari bagaimana kita hidup. Jika tidak, maka semuanya itu akan berlalu begitu saja tanpa menghasilkan perubahan apa-apa. Dalam surat Roma, Paulus sempat mengeluhkan sulitnya untuk melawan keinginan melakukan berbagai dosa. "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." (Roma 7:19). Mengapa demikian? Begini penjelasan Paulus: "Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku." (ay 22-23). Hati kita mungkin sangat haus akan firman Tuhan dan rindu untuk mengalami transformasi ke arah yang lebih baik, tapi berbagai keinginan daging bisa dengan segera menghambat itu semua, sehingga meski kita sangat ingin untuk berubah, seringkali kita gagal dan kembali jatuh pada dosa yang sama.

Kita sesungguhnya sudah dimerdekakan. Yesus berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:31-32). Kemerdekaan sebenarnya sudah dianugerahkan kepada kita ketika kita tinggal dan diam di dalam firmanNya. Tapi jika kita tidak mengaplikasikan firman-firman itu secara nyata dalam setiap langkah kita, maka berbagai kedagingan kita akan siap mengembalikan kita kepada pelanggaran-pelanggaran atau kebiasaan lama kita yang buruk. Untuk itulah kita harus senantiasa berjuang mengatasi keinginan daging, dan itu bisa kita lakukan lewat aplikasi secara langsung atas firman-firman yang telah tertanam dengan lembut di dalam hati kita ke dalam apapun yang kita lakukan atau kerjakan. Bagaimana bisa demikian? "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman yang kita aplikasikan itu akan sanggup memberi perbedaan nyata dan membuat kita tahu mengenai apa yang benar dan mana yang salah. Dengan pedang Roh inilah kita akan mampu menaklukkan segala pikiran kita kepada Kristus.

Kembali kepada surat Yakobus, ia mengatakan "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:25). Tekun beribadah tapi tidak mampu menjaga lidah, itu sama artinya dengan menipu diri sendiri, dan hanyalah akan membawa kesia-siaan belaka. (ay 26). Kita tahu bahwa kita harus mengasihi dan membantu orang yang membutuhkan, tapi jika tidak dilakukan maka semuanya tidaklah menghasilkan apa-apa. Kita tahu bahwa kita harus hidup kudus, tapi jika tidak kita lakukan, maka kita akan terus dicemarkan oleh dunia. Maka Yakobus mengingatkan "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." (Yakobus 1:27). Dengan kata lain, ibadah yang murni dan yang bercacat di hadapan Allah adalah ibadah yang menerapkan atau mengaplikasikan firman-firman Tuhan yang telah kita dengar, yang telah tertanam dalam hati kita, dalam setiap sendi kehidupan kita. Itulah yang akan memerdekakan kita dan akan mendatangkan kebahagiaan dan sukacita karenanya. Hari ini marilah kita ambil komitmen untuk tidak berhenti hanya sebagai pendengar firman, tapi masuk lebih jauh lagi untuk menjadi pelaku-pelaku firman.

Tanpa aplikasi nyata dalam kehidupan, semua hanya akan menguap sia-sia

Domba Butuh Gembala

Ayat bacaan: Markus 6:34
====================
"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka."

Domba butuh GembalaSosok yang memiliki figur pemimpin sangatlah dibutuhkan di semua tempat kerja. Figur seperti inilah yang biasanya sanggup mengendalikan bawahan, mengatasi berbagai konflik, ketegangan, situasi yang panas dan sebagainya. Seringkali orang yang mampu melakukan ini bukan soal siapa yang menjadi atasan, bukan soal kepintaran atau kecerdasan, dan bukan pula berbicara mengenai sosok yang menakutkan karena bersifat emosional, suka membentak atau marah. Sosok pemimpin ini biasanya akan segera dipatuhi meski belum mengeluarkan banyak kata. Kehadirannya saja bisa langsung membawa suasana yang berbeda. Figur seperti ini dalam keluarga pun diperlukan. Lihat saja banyaknya ibu yang mengeluh sulit mengatur anak-anaknya jika sang ayah sedang pergi ke luar kota untuk sementara waktu. Atau jika kebetulan di keluarga sosok ibu yang lebih punya figur pemimpin, maka ayah akan kelimpungan ketika si ibu tidak di rumah untuk sementara waktu. Sadar atau tidak, demikianlah manusia yang cenderung untuk selalu membutuhkan figur pemimpin atau panutan di sekitarnya. Tanpa itu, keadaan bisa jadi tidak terkendali karena masing-masing orang akan bertindak seenaknya. Itu sudah menjadi kebiasaan manusia secara umum.

Kita seringkali digambarkan sebagai domba dalam alkitab. Mengapa domba, bukan kuda, ular dan sebagainya? Domba diambil sebagai kiasan karena sifat dan keadaan domba yang banyak kemiripan dengan manusia. Domba adalah sosok yang rentan, lemah dan selalu butuh gembala yang mampu melindungi mereka dari berbagai ancaman. Domba dipandang sebagai santapan lezat bagi para predator seperti singa, harimau, beruang dan sebagainya. Mereka empuk dan lemah sehingga gampang untuk disergap dan disantap. Seperti itu pula manusia di mata iblis. Iblis akan terus berkeliling mencari mangsa bagaikan singa yang tengah mengincar domba. Siapa yang bisa melindungi domba? Tentu gembalanya. Ini sama halnya dengan kita yang lemah. Begitu banyak celah yang bisa menjadi pintu masuk bagi iblis untuk menyesatkan kita. Apalagi di jaman sekarang dimana kita "diserang" dari berbagai sisi oleh penyesatan-penyesatan lewat berbagai media, yang tidak selalu kasat mata. Tanpa sosok Gembala, bisa dibayangkan betapa berbahayanya hidup kita.

Sebuah catatan menarik ditulis oleh Markus dalam salah satu perjalanan pelayanan Kristus di muka bumi ini. Pada suatu kali Yesus mendarat di sebuah tempat. Begitu ia menjejakkan kakiNya turun dari perahu, ia langsung disambut begitu banyak orang. "Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka." (Markus 6:34). Ayat ini berbicara bukan hanya mengenai jumlah, tapi sepertinya apa yang Yesus lihat adalah sekumpulan orang yang terlihat sedemikian rupa sehingga hatiNya langsung tergerak oleh belas kasihan. Markus mencatat hal ini terlihat seperti sekumpulan domba yang tidak mempunyai gembala. Tidak teratur, tidak terurus, tanpa arah yang pasti, berjalan dalam ketidakjelasan, itu mungkin yang mereka rasakan dari sekumpulan orang itu. Puji Tuhan, dalam keadaan seperti itu mereka bertemu dengan sosok Gembala yang baik! Yesus langsung menyambut mereka dan mulai mengajarkan banyak hal. Dan di tempat itulah kemudian kita melihat mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang (belum termasuk anak-anak dan wanita) hanya dengan lima roti dan dua ikan. Mukjizat luar biasa yang sudah sangat kita kenal ini bermula dari belas kasih Yesus melihat orang-orang yang bagaikan domba tanpa gembala. 

Tuhan Yesus adalah Gembala yang baik. Nubuatan Yesaya menyatakan hal itu seperti berikut: "Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati." (Yesaya 40:11). Dan di masa Yesus, kita mengetahui rangkaian firman yang menggenapi nubuatan ini dalam Matius 10:1-21. "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku." (ay 14-15). Bukan cuma untuk domba-domba yang berada dalam penggembalaan-Nya saja yang Dia perhatikan, namun juga dari "kandang" lain. "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala." (ay 16). Hal ini berbicara mengenai orang-orang yang belum diselamatkan, yang juga memperoleh kesempatan yang sama untuk diselamatkan dan dituntun agar tidak binasa. Jika kita lihat dari perumpamaan tentang domba yang hilang, hal ini akan terlihat lebih jelas lagi. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan." (Lukas 15:4-6). Dengan penuh kasih dan sukacita Sang Gembala akan menggendong domba itu di bahuNya. Seperti itulah sosok Gembala yang baik, yang sangat peduli kepada keselamatan domba-domba yang ada bersamaNya.

Adalah salah besar jika kita menganggap kita serba bisa dan tidak membutuhkan siapapun selain diri kita sendiri. Manusia sesungguhnya lemah dan tidak memiliki banyak kemampuan untuk mampu bertahan sendirian, seperti halnya domba. Setiap saat bahaya bisa mengancam, setiap saat kebinasaan bisa hadir di depan mata kita, setiap saat hidup kita bisa porak poranda dirusak oleh tipu muslihat iblis. Kita tidak akan kuat jika berjalan sendirian. Kita butuh figur yang mampu melindungi kita dari "cakar" iblis, dan Yesus sudah menyediakan diriNya sebagai Gembala kita yang baik. Kita butuh Kristus sebagai Gembala. Apakah hari ini anda merasa letih, berbeban berat atau menjalani hidup seolah tanpa orientasi yang jelas? Apakah anda merasa hidup anda bagaikan berada dalam kapal yang terombang-ambing tanpa arah yang pasti, atau bahkan mulai karam? Kemiskinan, kelemahan, sakit dan berbagai masalah lainnya yang seolah tanpa solusi? Datanglah pada Kristus, Sang Gembala yang baik, Gembala yang sejati. Dia peduli, Dia mengasihani kita dan selalu rindu untuk menyelamatkan kita dan menuntun kita dengan kasihNya bagaikan gembala yang menjaga kehidupan domba-dombanya. Dalam visi Daud kita bisa melihat bagaimana sosok Gembala ini menuangkan kasih dan penjagaannya. "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23:1-3). Padang rumput hijau, air yang tenang dan menyegarkan, itu berbicara mengenai berkat berlimpah dan kesehatan/kesegaran. Tidak hanya sampai disitu, tapi ketika kita berada dalam mara bahaya pun Tuhan siap untuk melindungi kita. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (ay 4). Tuhan siap membela kita di hadapan lawan, melimpahkan kita dengan berkat-berkatNya (ay 5), hingga Daud bisa mengambil kesimpulan yang sangat manis seperti ini: "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." (ay 6). Itulah janji Gembala. Jika demikian, berjalanlah senantiasa bersamaNya, biarkan Tuhan membimbing kita melewati hari demi hari, dengan demikian tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Sadari bahwa kita bak domba yang lemah, yang setiap saat terancam bahaya serius, tapi puji Tuhan, karena Dia akan selalu ada bersama kita sebagai Gembala yang sanggup menuntun kita dengan selamat!

Domba itu lemah dan butuh perlindungan gembalanya agar bisa selamat

Tetaplah berlari! (a letter from God)



Tetaplah berlari! (a letter from God)

AnakKu yang terkasih, Aku hampir tidak percaya ketika membaca suratmu. Bukankah baru beberapa minggu yang lalu engkau berjanji tidak akan menyerah? Aku tahu, mungkin minggu-minggu ini terasa sangat sulit bagimu, tapi, anakKu, kuatkan hatimu. Tetaplah berlari dalam track yang sudah kusediakan karena Aku tahu yang terbaik bagimu. Bila kau merasa lelah, berhentilah sejenak, ambil roti dan air hidup yang PutraKu telah tawarkan dan makanlah. Aku yakin, setelah kau mendapatkan keduanya, kau akan merasa segar kembali. Setelah itu, tarik nafas dalam-dalam dan mulai langkahkan kakimu untuk bergerak maju. Fokuskan pandanganmu pada apa yang ada di depanmu, pada tujuan yang kau miliki, yaitu menyelesaikan perlombaan dan menjadi juara.

Buanglah kemarahan dan sakit hati yang menghantui pikiranmu. Amarah dan sakit hati itu tidak ada gunanya, hanya menguras tenaga dan menghambatmu mencapai tujuan. Terkadang Aku mengijinkan hal-hal yang buruk terjadi karena Aku ingin melatihmu. Aku ingin kaki-kakimu menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Dengan begitu engkau dapat berlari dengan lebih cepat. Berhentilah mengasihani dirimu sendiri, berdirilah tegap, dan punyailah mental seorang pemenang. Seorang pemenang, bukan dilihat dari berapa kali ia sukses meraih gelar juara. Di mataKu, seorang pemenang adalah seorang yang tidak pernah menyerah terhadap kegagalan, yang mau bangkit setiap kali ia jatuh. Karena itu, jangan pernah menyerah ketika kau jatuh tersandung kerikil-kerikil di sepanjang jalanmu. Jangan pula kau merasa malu terhadap dirimu sendiri. Angkat kepalamu dan teruskan perjalananmu mencapai finish.

Ketika pertandingan dimulai, Kuharap kau bisa mengacuhkan omongan orang-orang yang menonton di bangku stadion. Jangan merasa sombong karena pujian atau karena kau diunggulkan. Pujian dan pengagungan yang keluar dari mulut mereka terkadang hanya sekedar basa-basi di depan para juara. Tak jarang, kata-kata manis itu akan segera berubah menjadi kritikan pedas dan kecaman ketika para juara itu gagal. Karena itu, kau juga tidak perlu risau ketika mendengar pernyataan-pernyataan skeptis yang mengatakan engkau pasti kalah. Kau bukan bertanding atas kemauan mereka. Kau juga tidak hidup berdasarkan omongan mereka. Pelari yang berpengalaman tahu akan hal itu. Karena itu, tidak usah pusing dengan perkataan-perkataan mereka. Fokuskan pikiranmu pada tujuan yang semula, bukan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari orang lain, tapi untuk menyelesaikan pertandingan. Aku, Pelatihmu, tidak pernah meragukan kemampuan yang kau miliki. Aku tahu seberapa besar potensi yang ada padamu dan Aku tahu kau pasti bisa mencapai garis finish dengan gemilang.
Selamat berjuang anakKu, Aku menunggumu di garis finish.




Yang mengasihimu,
Ayahmu, Pelatihmu, Sahabatmu, Penonton setiamu





Tuhan.

Minggu, 17 Januari 2010

PRAYER FOR LIFETIME PARTNER


Tuhanku,

Aku berdoa untuk seorang pria/perempuan, yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
Seorang pria/perempuan yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau.
Seorang pria/perempuan yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.

Wajah ganteng/cantik dan daya tarik fisik tidaklah penting.
Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki
keinginan untuk menjadi seperti Engkau. Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.
Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas. Seorang pria/perempuan yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku. Seorang pria/perempuan yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah. Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku/ketampanan tetapi
karena hatiku. Seorang pria/perempuan yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi. Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang perempuan/pria ketika berada di sebelahnya.

Aku tidak meminta seorang yang sempurna, Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.
Seorang pria/perempuan yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.

Seorang pria/perempuan yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya. Seseorang yang
membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya. Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Dan aku juga meminta :

Buatlah aku menjadi seorang perempuan/pria yang dapat membuat pria/perempuan itu bangga dan bahagia.
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.

Berikanlah RohMU yang lembut sehingga kecantikanku/ketampananku datang dariMU bukan dari
luar diriku. Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.

Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.
Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari.

Berikanlah aku bibirMU dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat
mengatakaan "betapa besarnya Tuhan itu karena Engkau telah memberikan
kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna". Aku
mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat
dan
Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kautentukan.

Amin!

Kristen Yang Berbuah


Kekristenan adalah berjalan dengan Tuhan setiap hari, bergaul intim dengan-Nya di tengah peperangan setiap hari. Kekristenan bukan suatu kehidupan yang diatur oleh seperangkat hukum. Anda tidak bisa bergaul intim dengan Yesus karena mengikuti peraturan dan persyaratan. Anda dapat bergaul intim dengan-Nya karena kasih karunia-Nya. Jadi, jika Anda ingin melihat tangan Tuhan yang luar biasa melindungi Anda, Anda tidak bisa mengandalkan kekuatan Anda sendiri, tetapi Anda harus mengandalkan Tuhan, mengakui kebutuhan Anda akan Tuhan dalam segala lakumu (Amsal 3:5-8).

Efesus 2:1-6
"Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita-oleh kasih karunia kamu diselamatkan- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, ....

Bayangkan ilustrasi ini. Anak Anda meninggal tertabrak mobil. Ada beberapa kemungkinan yang dapat Anda lakukan.
Pertama, Anda bisa memanggil orang yang menabrak dan langsung membunuhnya. Ini dinamakan balas dendam.
Kedua, Anda dapat melaporkan si penabrak pada polisi yang akan mengadili orang itu sesuai proses hukum yang berlaku. Ini disebut keadilan.
Ketiga, Anda lakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia manapun, yaitu mengampuni si pembunuh, kemudian mengadopsinya untuk menggantikan posisi anak Anda. Bukan hanya itu, Anda pun memberikan kepadanya kedudukan dan harta warisan yang seharusnya diterima oleh anak Anda.
Inilah yang dinamakan kasih karunia.

Kasih karunia adalah upah yang Anda terima, yang sebetulnya tidak layak untuk Anda terima, yang Tuhan lakukan pada kita setiap harinya.

Mayoritas orang Kristen lebih suka dibelenggu oleh peraturan, ketentuan dan hukum. Padahal hukum akan memperbesar kelemahan, dosa dan kegagalan Anda. Hukum yang diberikan Tuhan kepada orang Israel, yaitu hukum Taurat, tidak bisa menggenapi perjanjian Allah dengan Abraham sebab hukum tersebut hanya diberikan sebagai penuntun atau guru bagi orang Israel sampai Kristus muncul.
Dengan kata lain, selama Anda ada di dalam Dia, kasih karunia Tuhan selalu memegang Anda, Dia tidak akan mengijinkan setan menarik Anda - "dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku", Yohanes 10:28. Karena itu, jika Anda berjalan dalam kasih karunia Tuhan, Anda dijamin aman dan selamat dan Anda akan berbuah banyak.

Yohanes 15:5
"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."

Kehidupan kekristenan Anda dilihat dari buahnya. Yesus berkata bahwa Dia adalah pokok dan Anda rantingnya. Ranting tidak bisa hidup apalagi menghasilkan buah kecuali menempel pada pokoknya. Semua bahan yang Anda butuhkan untuk berbuah, ada pada pokoknya. Anda tidak berbuah karena bekerja keras untuk berbuat baik. Itu adalah hukum. Anda berbuah karena Anda menempel pada Dia sehingga Anda menerima kehidupan, vitamin dan nutrisi dari Dia. Dan jika Anda berada di luar Dia, terlepas dari pokok, Anda tidak akan bisa berbuat apa-apa dan tidak akan berbuah. Kristen yang tidak berbuah adalah Kristen yang terbelenggu dengan peraturan, dia akan dipotong.

Anda harus mengerti bahwa Anda diselamatkan oleh kasih karunia-Nya, bukan karena kerja keras Anda. Anda tidak bisa sibuk dengan kegiatan agama dan program pelayanan tetapi tidak ada buahnya. Setiap kali Anda menghidupi firman, maka ada buah yang akan Anda tuai, dan buah itulah yang akan dilihat orang lain.orang lain.

OH TUHAN, PEGANGLAH TANGANKU !

“...Aku tetap di dekatMu; Engkau memegang tangan kananku..” Mazmur 73:23

Saat perpisahan antara manusia yang saling mengasihi adalah saat yang sangat mengharukan. Tapi bila kita tahu kekasih yang meninggalkan kita ini seorang yang beriman dalam Kristus, kita mempunyai pengharapan bahwa kita pasti bertemu kelak di Surga.

Penulis teringat seorang hamba Tuhan waktu isterinya sedang menunggu ' jam Tuhan '; dia berseru di telinga isterinya, “El, El, panggil nama Yesus, biar Dia membimbingmu pulang.” Benar isterinya masih bisa dengar, di saat yang termanis si isteri berseru sekuat-kuatnya: “ Yesus, Yesus, Yee...suus... Ye...” Sunyi senyap sudah tiada suara lagi, hening... Yesus telah memegang tangannya ke rumah Bapa. Damai terpancar di wajah si isteri.

Ketika kakak tertua penulis sakit parah, dalam beberapa hari dia sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Waktu kakak itu hampir putus nyawa, penulis peluk dia dan penulis juga berseru, “ Kak, kak, ingat Yesus, ingat Yesus, dia mencintaimu !” Kakak sudah tak dapat mengeluarkan suara, tapi dia mengangguk dan airmatanya keluar... sebentar lagi nafas lenyap, kehidupan sirna; dengan tenang sekali dia pergi seperti orang tidur.. Tak banyak yang dapat dibuatnya untuk Yesus, tapi beruntung sekali dia masih sempat menerima Yesus di akhir hidupnya. Hanya karena gengsi sajalah dia malu mengakui Yesus sebab semua saudara laki-lakinya belum menerima Yesus.

Suatu saat tiba giliran kita untuk menghadap pencipta kita. Di saat kehidupan kita hampir padam, sudah yakinkah kita akan persekutuan kita dengan Juruselamat kita ? Sehingga dengan pasti Dia akan memegang tangan kita membimbing ke Surga dan kita berseru, “ Oh, Tuhan peganglah tanganku, pimpinku pulang !”

Bukan langkah pertama yang penting, tapi langkah akhir yang menentukan !

Kamis, 14 Januari 2010

PERBEDAAN PRIA DAN COWOK


P : Pria
C : Cowok

P : Tahu jelas lima tahun lagi ia mau jadi apa.
C : Tidak jelas lima menit lagi ia mau berbuat apa.

P : Jago membuat wanita merasa tenang.
C : Jago membuat cewek merasa senang.

P : Bacaannya John Grisham, mainannya golf, tontonannya CNN.
C : Bacaannya Harry Potter, mainannya bilyar, tontonannya MTV.

P : Sebelum umur 30 sudah banyak uang.
C : Sebelum umur 30 sudah banyak dosa.

P : Seimbang antara penghasilan dan pemasukan.
C : Seimbang antara hutang dan pembayaran minimum.

P : Mendukung emansipasi wanita, tapi tetap membayari bon makan wanita.
C : Mendukung emansipasi wanita dengan membiarkan wanita bayar sendiri.

P : Punya akuntan, penjahit dan dokter langganan.
C : Punya salon, kafe dan bengkel langganan.

P : Meminta Anda nimbrung ngobrol kalau mamanya menelepon.
C : Pura-pura Anda tidak bersamanya jika mamanya menelepon.

P : Putus dengan pasangannya sambil berjabatan tangan dan mengakui sulitnya menjembatani perbedaan antar mereka berdua, diiringi ucapan, Kita tetap bisa berteman selamanya.
C : Putus dengan pasangannya sambil kabur dari rumah, merokok berbatang -batang, plus ucapan, Jangan undang aku ke pernikahanmu nanti!

P : Mencintai wanita 10 % pada pertemuan awal dan meningkat terus.
C : Mencintai wanita 100 % pada pertemuan awal dan menurun terus.

P : Berpikir dewasa seperti orang usia 40 tahun saat berusia 17 tahun.
C : Berpikir kekanakan seperti orang usia 17 tahun saat berusia 40 tahun.

P : Bisa menang hanya dengan otak dalam konflik.
C : Cuma bisa ngamuk, adu mulut, n adu otot kalo konflik.

P : Mikirnya Aku masih kurang pengetahuan, harus belajar lebih banyak.
C : Mikirnya Aku yang terhebat di muka bumi, siapapun aku hadapin !!!.

P : Otak no 1, digabungin otot kalo terpaksa.
C : Otot no 1, ditambah otak kalo punya.

P : Main sepeda agar tambah perkasa.
C : Main sepeda biar dipuji wanita.